Selasa, 21 Oktober 2014

Diary Monyet

Yang masih jadi misteri sampai sekarang adalah, kenapa seekor monyet dijadikan "kambing hitam" akibat cinta masa remaja seseorang. Tapi sudahlah tak perlu permasalahkan monyet, karena monyet tidak pernah membawa masalah kepada kita, kecuali kepada adik saya yang hasil pancingannya hilang diambil monyet-monyet hutan kelaparan. Ini true story loh.

JAS MERAH!

Saya ingin menulis tentang cinta monyet saya kala SMP dulu, yang (sejujurnya) sangat memalukan, tapi entah kenapa setelah beberapa tahun lulus, saya jadi merindukan momen-momen memalukan itu, ketika saya jadi pusat diskriminasi di kelas.
Saya belajar dari pengalaman, bahwa betapa bencinya kita dengan masa sekolah, tetap saja kita akan merindukannya dimasa depan, karena itu sudah menjadi bagian kecil dari hidup kita. 

Semua bermula dengan semakin membaiknya fungsi kelenjar testosteron milik saya, yang membuat saya melakukan langkah pertama dalam dunia percintaan, yaitu : Menyukai perempuan. (Yaiyalah perempuan).
Saya mulai menyukainya sejak kelas 8 dan kebetulan kala itu saya sedang aktif menulis di majalah TIMES di buku diary yang sudah saya besarkan sejak SD.

Karena buku diary adalah satu-satunya teman yang bisa saya percaya dalam menyampaikan unek-unek, jadilah buku diary itu (Sebenarnya itu hanyalah buku tulis biasa) penuh dengan berbagai cerita-cerita aneh saya yang sangat memalukan untuk saya ceritakan kepada teman.

Ini yang saya tulis disitu :
"...hari ini disamping kelas ada sekawanan lebah yang sedang membuat sarang dipohon pepaya. Teman-teman sekelas saya memulai kegiatan iseng mereka dengan melempar-lempar sarang itu dengan batu, botol aqua atau apapun itu yang bisa dilempar. Sebenarnya saya tidak suka kegiatan kurang kerjaan begini, tapi semua berubah semenjak negara api menyerang ketika saya melihat Rini sedang duduk bersama teman-temannya, tepatnya beberapa meter dari sangkar lebah, sepertinya mereka semua belum menyadari kalo ada sarang monster di dekat mereka. Jadi deh saya malah ikut-ikutan anak-anak nakal ini melempari sangkar lebah, niat saya sebenarnya bukanlah untuk mengganggu lebah, tapi hanya agar bisa melihat Rini, melihat Rini dari jarak sedekat mungkin.

Yang buat saya suka sama dia itu, karena rambut dia itu berponi, poninya itu lho bulet kayak buah apel..."

Sebenarnya dalam cerita itu, terserah anda ingin menamai perempuan itu dengan nama Rini, Ani, Ana ataupun Rina, asal jangan Joko.
Rini tentu saja bukan nama aslinya dan perempuan itu sekelas dengan saya.

Saya menulis itu ketika di dalam kelas, kebetulan saat itu saya sedang ingin menulis apa saja dibuku harian saya, daripada semua ide saya hilang lebih baik buku diary ini saya bawa untuk jadi "Coret-coretan".
Dan saat itu terjadilah peristiwa paling membahagiakan bagi seluruh siswa-siswi Indonesia : Bel Istirahat.

Karena perut saya sudah berdo-re-mi-fa-so-la-si-do (bilang "laper" aja susah amat), secepat kilat saya menutup buku diary itu, menaruhnya di kolong meja dan langsung menuju kantin.

*ANGGAP SAJA 10 MENIT KEMUDIAN*

Perut saya sudah terisi.
Dan sepertinya sudah bisa lanjut menulis lagi.

Tetapi ada hal aneh yang saya rasakan, karena sepanjang jalan menuju kelas, semua orang senyum-senyum najong kearah saya, dan kadang ada yang tertawa.
Pasti ada yang salah, dan saya tahu penyebabnya.

Lalu saya merogoh-rogoh bagian belakang tubuh saya, tapi tidak saya temukan kertas apapun.
Biasa lah, kenakalan remaja yang paling mainstream. Yaitu menulis yang aneh-aneh dikertas, dan ditempelkan ke punggung teman.

Saya paling sering dikerjai dengan tulisan :
"AWAS ANJING GALAK"
"SAYA HOMO"
"ORANG GILA"

Tapi masalahnya berbeda sekarang, apa sih yang mereka tertawakan?
Karena tidak mau diambil pusing, saya cepat-cepat masuk kelas.

....

Dan...
Kemudian...
Dunia kiamat...
Matahari hilang dari orbit...
Dajjal keluar dari persembunyiannya...

Ketika sekelas meneriaki saya dengan 3 kata penuh makna :
"CIEEE PONI APEEELLLL!!!!"

Oh God, why?

Ternyata seluruh kelas sudah membaca isi buku harian saya.
Anda semua tahu, membaca buku harian seseorang itu sama kejamnya dengan pembantaian nazi terhadap kaum yahudi.

Malunya tuh disini... *Nunjuk muka*

4 komentar:

  1. Hahaha, kontruksimu yang kurang bagus ni. Harusnya kalo nulis di diary, buat tulisannya jadi fiksi, nah, orang akan terbuai membacanya, seakan itu hanya tulisan biasa. Gitu..

    Kunjungan pertama pangeran wortel dari tulisanwortel.com, design blognya nice.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Diary kan buat konsumsi pribadi bang -_-

      Hapus
  2. Ibarat kata kamu itu egois, hanya ingin bersenang-senang dengan cintamu sendiri, tidak mau membiarkan orang lain senang juga. Hubungan yang sangat tidak sehat..

    Tapi, ngeri juga tuh kalo buku diary di baca, kalo sekarang rawannya baca-baca SMS teman.

    Bdw, salam kenal,
    Rahul Syarif.

    BalasHapus