Senin, 28 Juli 2014

Momen-momen Ramadhan Tahun Ini 1435 H/2014 M

Ini Ramadhan terakhir saya nih kawan sebagai anak SMA. *Insyaallah lulus*
Lumayan banyak sih peristiwa-peristiwa sebulan ini yang cukup menarik kurang menarik untuk diceritakan, kenapa kurang menarik malah saya ceritakan? Biarin aja.
Kalo cerita saya gak bagus, saya jadi punya alesan.

Alhamdulillah puasa 1 bulan ini saya habiskan di tiga tempat yang berbeda, tapi masih provinsi yang sama. Dirumah. Dirumah. Dan dirumah.
Lah apa bedanya?

Ya beda rumah. Tapi namanya rumah ya enggak ada bedanya, ada pintu, jendela, atap, lantai, halaman, semuanya sama. Gak ada kan, rumah yang pintu, jendela, ataupun toiletnya dijual terpisah? Udah kayak mobil-mobilan Hot wheels aja.

Kalo ada, ya jadinya begini.
Dirumah *tanpa jendela*. Dirumah *tanpa pintu*. Dirumah *tanpa tanah*. (Lah rumahnya nancep dimana kalo gak pake tanah?)

Terlepas dari semua itu, saya memberikan anda kebebasan sepenuhnya, apakah anda ingin membedakan rumahnya atau tidak. Itu semua hak anda. Saya dermawan kan?

Saat ini saya terserang flu, demam, kanker, gagal ginjal, impotensi, gangguan pada janin karena sudah 3 hari berturut-turut badan saya disodorkan dinginnya air conditioner yang rutin disetting 18C. Situasi yang benar-benar tidak saya harapkan, karena setiap menitnya, ada cairan berlimpah yang selalu keluar dari hidung saya (alias : ingus). Saking banyaknya, mungkin saya bisa memenuhi satu tangki bensin motor yamaha dengan ingus, tapi niat itu saya urungkan, karena saya tidak punya motor. Apalagi yamaha. <<< oke ini berlebihan.

Dan setiap menitnya juga, si ingus harus rutin saya bersihkan agar tidak menjalar kemana-mana, bisa-bisa illfeel kalo ada yang ngeliat, trus habis illfeel, dia stress, gak mau makan, trus sakit, kelaperan, akhirnya mati. Lalu pada akhirnya yang jadi tersangka pembunuhannya adalah saya.
"PAK, SUMPAH BUKAN SAYA YANG BUNUH DIA. YANG BUNUH DIA ADALAH INGUS-INGUS SAYA. TOLONG PENJARAKAN MEREKA SAJA PAK!" Ini pembelaan saya kepada yang mulia hakim garis.

Tapi seriusan deh. *eh kunyuk, dari tadi elo sendiri yang enggak pernah serius!*
Hal sepele yang menurut saya lucu itu adalah saat-saat nunggu buka puasa, ada satu channel tv lokal ditempat saya ini, yaitu Lampung TV, karena adzan maghrib di stasiun tv tersebut menandakan waktu berbuka puasa ditempat saya *yaiyalah sama-sama Lampung*, jadilah saya beserta orang serumah nungguin channel ituuu aja, bermenit-menit sebelum buka, yang kami tonton cuma para bupati beserta wakilnya + istrinya masing-masing, yang bergilir satu per satu bilang hal yang sama : "Selamat berpuasa, selamat menunaikan ibadah puasa".

Mulai dari bupati dari ujung utara, sampe ujung deket pelabuhan bakauheni, semuanya lengkap.
Dan anehnya, kok yang diucapin itu "selamat berpuasa" ya? Kan baru aja buka, seharusnya bilang gini "Selamat berbuka", mungkin saja sudah terpikir oleh mereka mengenai hal itu, tapi takutnya kata 'berbuka' berkonotasi negatif.

Dan setelah selesai berbuka puasa, dengan perasaan tanpa dosa, channel itu kami ganti begitu saja. Kalo pribahasanya sih gini : "Sepah dibuang habis, manis begitu saja"
Apa? Salah? MAAF saya sangat jarang salah, apalagi dalam hal menyampaikan pribahasa. Titik. 
Hanya di Indonesia. Bukan hanya manusia, channel tv pun bisa jadi korban pph.
Apa? Salah lagi? Hohoho Maaf saya berpura-pura salah, anda saya tipu. Yang benar itu http. Benar kan saya jarang salah?

Ending :

Baiklah kawan. Diakhir postingan ini saya ingin meminta maaf kalo ada ucapan tertulis saya yang kurang berkenan, khususnya postingan yang ini. Saya hanya menjalankan status saya sebagai remaja, yang kadang-kadang labil. Jadi mohon dimaklumi ya! ^_^




Finally. Saya punya pertanyaan super penting.
Gimana cerita saya? Gak bagus kan? Iyaa dong... Gak menarik. 

2 komentar:

  1. minal aidzin wal faidzin yow dek brooo~
    *karena elo masih SMA* *meskipun dek bro agak unyu-unyu menjijikan* *tapi ya sudahlah*

    BalasHapus