Rabu, 13 Juli 2016

A Place, Between Idealism And Realities

"Kalau bahan makanan "sampah" bisa dimasak jadi enak, itu baru Master Chef. Kalau masak pake segala macem bahan mahal, rasanya enak ya wajar." Itulah sebuah ungkapan oleh ayah yang bisa menjadi salah satu benang merah, perjalanan saya untuk kuliah.

Hanya satu pesan saya : Jangan lupa siapkan kopi ataupun cemilan sebelumnya, karena membaca cerita saya secara tuntas agak memakan waktu.

Ok, Let's just begin, Shall we?

***

Desperation - Kelas 10


Saya masuk dalam golongan orang yang bersekolah di SMA swasta karena tertolak oleh SMA negeri. Dan itu membuat saya begitu berambisi mengejar nilai pada tahun pertama sekolah, karena bagi saya, peringkat sekolah adalah segala-galanya.

Target untuk meraih juara pertama di kelas tak ubahnya hanyalah cara untuk menghibur diri sendiri, yang masih belum bisa menerima fakta bahwa otak saya belum mampu untuk sekedar meloloskan saya masuk SMA negeri unggulan tersebut. Pada semester pertama ini, peringkat kedua berhasil saya dapatkan, dan membuat saya dapat tersenyum puas walau tak sesuai target.

Namun, semester dua berkata lain. Juara 2 yang saya raih ternyata bukan karena saya (pure) pintar, tapi disebabkan saya begitu berambisinya mendapatkan nilai. Materi semester awal ternyata mudah sekali untuk dihafalkan karena hampir semua pelajaran hanyalah teori-teori dasar, lain hal nya pelajaran pada semester 2 yang sudah penuh dengan pemahaman mendalam dan rumus-rumus yang sangat saya benci.

Sekuat tenaga saya mempertahankan idealisme itu dengan cara lebih aktif dan sering bertanya pada guru, meminjam buku di perpustakaan walau sampai telat saya kembalikan, belajar sekuat tenaga bahkan ketika malam minggu. Namun tetap, materi sangat susah saya pahami.

Dan saya sadar akan satu hal : "Saya HARUS ikut bimbingan belajar!"

Setelah mencari info, ternyata ada banyak sekali lembaga bimbel disana-sini, dan hanya ada satu kesimpulan : 
"Perlu membayar berjuta-juta untuk bimbel."
Tak mungkin punya dana sebesar itu, secara tiba-tiba saya ditawari les oleh keenam teman sekelas yang baru akan memulai, saya ingat sekali siang hari itu, yang penuh rahmat itu, ketika mereka bilang biaya les nya hanya 100 ribu per bulan.
"Gilaaa murah banget! Wajib ikut kalo gini mahh!" Saya bergumam dalam hati sekaligus senang karena akhirnya bisa terbantu.

Mendapat berita menggembirakan ini, dengan penuh semangat saya meminta izin ke ibu supaya uang bulanan bisa dilebihkan 100 ribu. Saya -yang selama SMA tinggal di sejenis asrama yang sangat jauh dari rumah orang tua, sehingga pulang "melihat" rumah hanya bisa saya lakukan ketika semester berakhir- langsung mengirim sms ke Ibu, perihal keinginan saya untuk mengikuti bimbel murah ini. 
Namun, isi sms balasan dari ibu hanya memaksa saya tertunduk seraya membuang nafas panjang, tanda untuk ikhlas. 

Saya tetap, tak bisa membayar.

Apa daya, lahir di sebuah ekonomi pas-pasan mampu menghalangi langkah saya. Jujur, saya agak sedih, mengetahui banyak manusia seumuran saya malas ketika mengikuti bimbel, sementara saya memohon agar dapat merasakan “kemewahan” untuk para pelajar tersebut.

Materi pelajaran tertinggal cukup jauh, ketika guru sudah masuk bab ketiga, saya baru faham dengan bab pertama, terus seperti itu. Dan ketika saya sudah dalam kondisi lelah bermain “kucing-kucingan”… Keadaan akademik keenam teman saya tersebut justru meningkat jauh melebihi saya. Pada masa itu, saya sepanjang hari hanya menggerutu menyalahkan uang 100 ribu per bulan sialan tersebut.

Hari demi hari, intensitas belajar saya terus berkurang.
Saya heran setengah mati, kenapa materi sekolah bisa begitu sulitnya, terutama pada pelajaran matematika. 
Hingga suatu hari, saya menyerah (baca : sudah malas) dengan namanya belajar. Benar-benar sudah muak.

Saya benci ketika semua tugas sekolah menumpuk sementara saya tak tahu bagaimana cara mengerjakannya.
Saya benci untuk berkompetisi meraih nilai.
Saya benci ketika harus maju kedepan kelas dan sekelas hanya tertawa melihat saya tak berdaya untuk mengerjakan soal.
Saya benci menghabiskan waktu untuk mendengarkan ocehan setiap guru yang mengajar.
Saya benci sekolah.

Dalam buku catatan kecil, saya tulis sebuah ungkapan penuh kebencian :
Fuck nilai akademik.
Fuck belajar.
Fuck sekolah.

Life as a bird - Kelas 11


Saya literally tidak peduli lagi dengan semua tetek bengek akademik, dan itu membuat  nilai akademik saya benar-benar jeblok. Bahkan nilai matematika di rapor selalu pas KKM. Dengan keadaan seperti ini, saya mencari pelampiasan lain dengan banyak mengikuti lomba-lomba di setiap event, total sudah 8 lomba yang saya ikuti berikut dengan piagamnya, tapi hanya sebagai peserta, karena tak pernah juara. Masa-masa kelas 11 benar-benar saya isi dengan bersantai ria tanpa memikirkan sekolah. Tempat saya menuntut ilmu itu pun tidak menuntut banyak tentang prestasi nilai para murid-muridnya, terutama saya pribadi.

Kala malam tiba, selalu saya sempatkan segelas kopi sebagai teman penyuntik semangat diri, namun setelah itu bukanlah kegiatan membaca buku pelajaran ataupun mengerjakan PR yang saya lakukan, tetapi menonton film beramai-ramai dengan kawan, kadang kami sampai bermain video games hingga larut malam.





Oh iya, saya belum mengatakan sebuah hal penting kepada kawan semua. Bahwa saya tipe orang yang cuek dan jika benar-benar tidak peduli akan suatu hal, maka akan benar-benar saya abaikan. Contohnya saja ketika UN SMP, saya yang tidak ambil pusing lebih memilih untuk menonton semi final liga champion, padahal besoknya saya harus mengerjakan soal-soal UN Matematika.

Entah tak ingat lagi kapan terakhir kali saya mengerjakan PR kala itu, toh di kelas ada "enam anak" pintar itu yang bisa dimintai hasil jawaban PRnya, tapi itu ketika mereka sedang berbaik hati, jika tidak? Saya terpaksa... Harus ikhlas dengan nilai rapor pas-pasan.

Start a new fresh - Kelas 12


Ada setitik keinginan di dalam hati saya untuk bisa berkuliah di perguruan tinggi negeri. Namun, hampir tak terpikir oleh saya akan kuliah dimana, bahkan sepertinya tidak ada satupun universitas yang mau menampung saya, karena sejujurnya, bahkan saya tidak tahu selama ini sekolah  apa yang saya dapat selain ijazah dan teman.

Tetapi dengan sekuat tenaga, tetap saya usahakan untuk meninggalkan pola pikir saya yang lama, sepertinya harus "tobat" di kelas 12 ini. Walau tetap saja, saya takkan bisa ikut les intensif SBMPTN seperti anak-anak SMA pada umumnya.

Saya selalu iri dengan mereka semua yang memiliki orang tua yang selalu mampu membayar semua hal yang berkaitan dengan akademik anak-anaknya. Seumur hidup, tak pernah saya ikut bimbel manapun, paling mentok itu juga bimbel dari pihak sekolah menjelang UN yang menurut saya tidak ada bedanya dengan kelas biasa. 
Bersyukurlah kalian jika mempunyai orang tua yang mampu membayar kebutuhan akademik secara "full services", sementara di pelosok bumi lain, ada saya sendiri, yang harus rela tidak jajan hanya untuk membayar uang LKS.

Mulailah informasi tentang SNMPTN dan SBMPTN sampai ke telinga saya. Ternyata saya bisa kuliah tanpa tes, melalui jalur SNMPTN. Sayangnya, bukan karena nilai rapor saya yang kurang mendukung, tetapi fakta bahwa SMA tempat saya bersekolah adalah sekolah swasta yang belum pernah ada alumni yang mampu lolos SNMPTN, membuat saya begitu pesimis.


Rupanya, selain nilai rapor, panitia SNMPTN juga mengambil penilaian dari akreditasi sekolah. Dari kabar yang saya dengar, SMA Negeri lebih diutamakan ketimbang swasta.
Sudahlah tidak akan ada harapan untuk kuliah tanpa tes.

Namun ada yang berbeda pada fase ini.
Saya ingat sekali...
Semester 2, tepatnya november 2014, pertama kalinya saya bertemu dengan Zenius.net, sebagai hasil saya Googling karena sudah desperate akan nasib mau kuliah dimana.
Setelah saya telusuri lebih jauh, saya cukup takjub dengan materi persiapan SBMPTN yang bukan main banyaknya, terutama pada pelajaran sejarah.

Hanya berbekal meminjam laptop teman & numpang wifi sekolah, sepertinya saya mampu mengejar semua materi-materinya. Fakta bahwa saya tetap harus membayar untuk membeli paket bulanan zenius, tidak begitu memusingkan kepala, karena harganya cukup murah jika dibanding dengan hasil yang (Insyaallah) akan didapat nanti, apalagi kalau dibandingkan bimbel yang sampai berjuta-juta.

Setelah banyak membaca artikel-artikel di blog zenius, saya sadar jika mimpi harus diperjuangkan.  Sama seperti pernyataan Arai atas Ikal :
"tanpa mimpi, orang seperti kita akan mati..." (Sang Pemimpi)

Dosis percaya diri saya kembali naik setelah itu "direnggut" bertahun-tahun lalu, namun itu justru membuat saya blak-blakan ketika ditanyai akan mendaftar kuliah dimana : "Universitas Indonesia!" Jawab saya dengan mantapnya, seperti tanpa malu.
Dan itu (tentu saja), membuat saya ditertawakan oleh seisi kelas. Sejak saat itu, saya dipanggil oleh teman sekolah dengan sebutan "Anak UI", yang semata-mata hanyalah ejekan.
Saran dari saya, never tell your dreams, or people will be making jokes out of you.

Walaupun tak pernah ada alumni yang lolos, saya tetap mendaftar SNMPTN sekedarnya, daripada tidak sama sekali. Saya pilih prodi yang lumayan saya suka kala itu, biologi. Universitasnya? Yang jelas tidak mungkin UI.
Saya juga sertakan semua piagam-piagam walau hanya berstatus peserta, dengan asumsi tak akan lolos. Yaiyalah wong gak ada juga kakak kelas yang bisa lolos. Saya ingat sekali sampai-sampai saya pasang tulisan di samping kasur : "SNMPTN hanya mitos!"

SBMPTN adalah sebenar-benarnya ujian masuk PTN bagi saya. Karena memang benar-benar kemampuan otak yang di uji, mental berkompetisi, dan banyak hal lainnya yang terlihat "abstrak".

Pada pertengahan 2015, SBMPTN akan digelar, mulailah saya menghemat mati-matian uang jajan hanya untuk membeli paket bulanan zenius, dan itu baru terkumpul tepat satu bulan sebelum UN.

Ketika banyak zenius user yang mengeluh :
"Ah! Coba gue nemu website ini dari kelas 10."
"Kenapa gue gak dari dulu pake ini."

Itu gak berlaku buat saya, toh kalaupun saya bertemu dengan zenius.net sedari kelas 10, saya tetap tak akan mampu membelinya.
Semua uang saya pertaruhkan karena momentum ini penting buat masa depan saya, persetan dengan nilai sekolah, yang penting nilai tes SBMPTN saya besar.

Bertemu dengan zenius menyelesaikan satu masalah, namun ada masalah baru yang (bodohnya) baru saya sadari... Prodi yang sangat saya minati masuk dalam kategori soshum, sedangkan saya adalah anak IPA.

"Lah kenapa malah ngambil biologi di snmptn?"

Jawabannya... Karena saya pengen berharap dengan SNMPTN, saya sadar jika mengambil prodi saintek, maka peluang akan lebih besar.
Jawaban singkatnya... Karena saya labil.

Sebulan lagi UN akan datang, dan saya harus memutuskan untuk fokus ke SBMPTN (yaitu materi IPS) atau UN. Dan saya memutuskan... Untuk mengejar ketertinggalan materi soshum.

Ujian nasional... Enyahlah kau... 

Winter Ujian Nasional is coming


Seperti sebuah Déjà vu, pada malam sebelum UN, saya malah begadang dan menonton film, hampir mirip polanya seperti saat UN SMP. 
Apakah tindakan yang saya perbuat itu cukup gila? Sepertinya sih bisa, tapi apa yang akan terjadi keesokan harinya, akan lebih gila.

Ketika UN berlangsung, semua orang kalang kabut mencari kunci jawaban. Bahkan sampai ada beberapa murid dari SMA lain yang patungan untuk membeli kunci sampai berjuta-juta rupiah.

Apa yang saya lakukan?
Saya berkata dalam hati : "Buat apa idealisme selama ini jika toh elo ikut-ikutan nyontek UN? Nilai sekolah elo udah hancur! Gak akan jadi masalah kalau nilai UN juga hancur! Hancur! Hancur! Semuanya sekalian, tetapi jangan hancurkan sebuah kursi untuk elo kuliah nanti!"

Sayapun menjawab soal-soal UN, hari demi hari...
Soal Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris masih sanggup saya kerjakan...
Soal kimia dan biologi sangat kritis karena saya hanya mampu mengerjakan 15% dari total soal, itupun cuma sekedar soal "bonus"...
Dan... Untuk soal fisika dan matematika, karena tak ada satupun yang saya bisa, soal dari nomor 1 - 40... Saya isi "B" SEMUA...

Iya, kalian tidak salah baca. Ketika Ujian Nasional SMA, Saya hitamkan ljk dengan sebuah barisan hitam, khusus di bulatan "B". Bukan main.

Bahkan pengawas UN yang notebene nya guru dari SMA lain, sampai geleng-geleng kepala akibat ulah saya.

Kalian boleh mengatakan saya idiot, goblok, tolol atau apalah itu.
Tetapi saya melakukan hal itu karena pertimbangan, yaitu sebuah pernyataan pemerintah kala itu bahwa UN bukan penentu kelulusan. Tapi sejujurnya, saya akui kalau saya memang tolol. Hahaha
"Selama tiga tahun, apa sih yang saya pelajari di SMA, kok bisa sampai separah ini?" Ungkap saya dalam hati.

Ketika UN berakhir, saya duduk sendirian sambil tertunduk.
Bukan karena menyesali perbuatan nekat saya, tetapi karena sedang membaca artikel di zeniusBlog karya Faisal Aslim, tentang "Statement bahwa Indonesia telah dijajah Belanda selama 3,5 abad adalah sebuah kesalahan."

Lihatlah? Betapa gilanya efek yang ditimbulkan jika terlalu lama berinteraksi dengan zenius.net beserta tetek bengeknya.

Kelulusan, beserta hasil snmptn


Jalan hidup sangat sulit untuk diprediksi, tetapi takdir memang berbanding lurus dengan ambisi dan usaha.

Saya dinyatakan lulus oleh sekolah, walau dengan nilai mengenaskan. Sangat mengenaskan. Namun, yang penting lulus, ya kan?

Dan... Guess what...
Saya lolos dalam SNMPTN pilihan pertama!

Kaget setengah mati saya dibuatnya.
Ternyata ada dua orang lagi dari sekolah saya yang juga lolos SNMPTN.

Pertanyaan selanjutnya, apakah saya gembira dengan itu semua?
Senang, iya.
Bingung, sangat iya.
Fakta bahwa saya (beserta dua orang teman itu) menjadi angkatan pertama yang mampu tembus SNMPTN, menjadi sebuah berita gembira bagi sekolah.
Tak mungkin saya sia-siakan kesempatan emas ini dan membuat sekolah saya untuk pertama kalinya dipercaya panitia SNMPTN, menjadi pertama kalinya juga di block karena kursi SNMPTN tidak saya ambil.

Namun, bagaimana dengan semua malam-malam yang telah saya lewati dengan zenius.net?
Bagaimana dengan jaket kuning impian yang saya jaga dengan idealisme walau banyak yang meremehkan?

Tapi, mungkin ini memang jalan yang sudah seharusnya saya tempuh.
Saya ambil kursi SNMPTN itu, dan berkuliah disana. 


Memulai kehidupan kampus


Bagaimana kawan? Apakah kisah perjuangkan saya mendapatkan kursi ptn ini sebuah happy ending? Walaupun saya tak mendapat jaket kuning impian saya, namun yah sudahlah mungkin itu semua hanyalah sebuah mimpi semu yang "sekedar" memberi saya suntikan semangat untuk kembali belajar serius.

Saya memutuskan untuk tidak mendaftar SBMPTN 2015, sebuah keputusan yang telah berulang-ulang saya pikirkan.
Dengan catatan masa lalu saya sebagai orang yang tak acuh pada sekolah, adalah sebuah keajaiban ketika ada universitas yang mau menampung saya.

Namun, keputusan saya untuk berkuliah di bidang saintek berhasil "meraih" banyak kendala, diakibatkan saya harus kembali bertemu Ilmu-ilmu Alam yang tak ada satupun nyantol di kepala saya. Kembali saya harus berhadapan dengan fisika & kimia yang saya beri nilai mengenaskan pada pergelaran UN.


Ospek telah saya lalui. Semua tugas-tugas kuliah membuat saya harus mampu mencuri-curi waktu untuk tidur ketika tak ada dosen masuk, akibat mengerjakan tugas hingga malam menjadi larut, selarut-larutnya.

Dear pembaca budiman, apakah kalian sudah lelah membaca tulisan saya hingga sejauh ini? Siapkan kembali energi yang masih tersisa, karena...


Saya minggat kuliah


Sudah saya sampaikan sedari awal, jika hidup tak dapat diprediksi. Saya mengalami problem yang paling sering dialami oleh para mahasiswa baru, yaitu salah jurusan.

Hanya perbedaannya, merasa kuliah di jurusan yang tak sesuai bukanlah penyebab utama saya kabur, namun ada setitik keinginan bahwa saya begitu menyukai Ilmu sosial, dan... jaket kuning tak dapat keluar dari bayang-bayang pikiran saya.

Sungguh saya merasa seperti manusia paling kufur nikmat, tak tahukah diri saya bahwa kapasitas otak tak akan sampai kepada Universitas yang menyandang nama negara tersebut.
Universitas Indonesia? Kampus impian bagi setiap insan, termasuk saya. Tapi, saya hanyalah seorang pemuda kampung dengan ekonomi keluarga tak mumpuni. Apakah memang saya bermimpi terlalu tinggi? Saya selalu diremehkan oleh mereka, apakah memang saya makhluk remeh?

Baru tepatnya sebulan kuliah, saya minggat tanpa pamit kepada kawan-kawan biologi, dan langsung menaiki bis, menuju desa tempat tinggal keluarga. Terlalu banyak hal bodoh yang telah saya lakukan.


Pasca kabur kuliah


Ayah & ibu adalah satu-satunya pihak yang tak menunjukkan rasa "marah" atas keputusan saya, itulah kelebihan keluarga saya, memiliki kepercayaan penuh atas anak-anaknya walau tak mempunyai harta yang memenuhi neraca pendapatan keluarga.

Sekarang, saya hanyalah seorang pemuda kampung kabur kuliah, sekaligus pengangguran, dengan "rekor-rekor" fantastis semasa SMA.

Pada titik ini, saya benar-benar hilang faith atas diri.

Keputusan saya untuk mengikuti SBMPTN 2016 tak ubahnya seperti sebuah bom waktu, yang tinggal menunggu detik demi detik untuk meledak. Bagaimana jadinya jika saya tidak lolos tahun depan?

Beberapa dari kalian mungkin heran, kenapa saya sampai berani bertindak sejauh ini.
Tak begitu menakjubkan alasannya : Saya masih muda, dan zona nyaman bukanlah tempat untuk pemuda.

Perjalanan bersama (lagi) zenius.net for the very last chance


Hanya berbekal paket 8 bulan zenius.net hasil pemberian ibu. Saya babat habis semua materi sejarah yang berjumlah 22 bab, video-videonya begitu menggugah rasa penasaran akan sejarah tempo lalu. Setiap sore atau malam hari, selalu saya sempatkan menyeduh segelas kopi ditemani video-video perjalanan umat manusia dalam setiap generasi kehidupan, yang dirangkum hanya dari suara seorang manusia, bernama Faisal Aslim.
Thanks to you, my brother, for your lovely voices that actually echoes in my ears, when I was doing the test.
Just chill out... I'm straight. 
Btw... May god bless your marriage.

Lalu, muncul lagi seorang "konyol" pengisi materi sosiologi yang mengaku bernama Pio. Maaf bang, lawakanmu terkadang garing sehingga harus memaksa saya untuk tertawa pada dini hari yang sunyi, hanya untuk menghormatimu sebagai tutor. Tapi terkadang, guyonanmu sukses mengocok isi perut yang sudah penuh dengan kafein. Saya dengarkan dengan penuh perhatian semua video yang telah kau rekam, sambil berharap bahwa apa yang sedang saya perjuangkan sekarang, dapat menjadi sebuah social elevator yang mampu membantu saya menaiki sepak terjang stratifikasi sosial.

Bertemu ekonomika, pasti bertemu dengan si maestro Sabda Putra Subekti (Saya harap dua nama terakhir itu benar adanya), yang mengisi banyak sekali video-video di zenius.net, mulai dari matematika, ekonomika, hingga menjadi mario teguh ala-ala  motivasi dan tips untuk semua pejuang SBMPTN. Setelah saya menjelajah zenius.net dan mengetahui fakta ini, tidak jelas apakah dia memang orang yang berkompeten untuk itu atau karena maruk. :D

Jika banyak yang berpikir bahwa menjadi alumni memiliki peluang lebih besar pada SBMPTN, memang benar. Tapi jangan lupakan fakta tentang saya dan banyak orang diluar sana yang tidak mengikuti bimbel intensif SBMPTN manapun. Karena kami harus benar-benar mengatur jadwal belajar secara konsisten, karena tidak ada sama sekali tutor yang dapat memberi arahan yang nampak secara fisik. Saya bahkan pernah sama sekali tidak menyentuh materi selama beberapa minggu karena sebuah alasan remeh : malas.

Belum lagi semangat belajar yang mirip filosofi roda, kadang diatas kadang dibawah. Dan semua rasa minder dalam diri ketika tak ada teman satupun yang sedang dalam keadaan serupa, terkhusus bagi saya yang mendapat titel sebagai anak UI (Universitas Insyaallah, itu ejekan untuk saya, kalian mengertilah artinya apa) akibat over pede dimasa lalu.

Semua beban itu mencapai puncaknya ketika sebuah pemikiran terbesit di kepala : "Bagaimana jika saya gagal di tahun kedua ini?"
"Bagaimana jika kuliah di tempat sebelumnya adalah sebuah takdir yang nyata?"

Amunisi yang saya gunakan untuk menerjang SBMPTN adalah benar-benar murni hanya mengandalkan website zenius, dan beberapa buku persiapan SBMPTN yang banyak sekali beredar di pasaran. Dan itu membuat saya begitu takut jika harus berhadapan dengan kata “maaf” ketika hari pengumuman tiba. 

Banyak dari pengguna zenius yang mengaku dapat lolos hanya bermodal zenius.net, tapi apakah itu benar-benar nyata? Maksud saya, bagaimana jika mereka memang pintar dari sononya? Bagaimana jika mereka sebenarnya secara “tidak sadar” mengambil bimbel selain di zenius? Bagaimana jika mereka lolos karena memang universitas dan jurusan yang dipilih tergolong mudah?

Bagaimana? Bagaimana?


Pada kondisi seperti ini, saya putuskan untuk fokus 100 % pada penguasaan materi dan tidak memikirkan kemungkinan terburuk apapun. Bahkan hari tes belum sama sekali dimulai, kenapa harus jauh memikirkan kegagalan? Saya yakin akan satu hal, kesungguhan akan meluluhkan apapun.

Hari dimana ratusan ribu anak muda secara kompak duduk berkutat dengan soal SBMPTN pun tiba


Ini pertama kalinya saya mengikuti SBMPTN. Karena kesempatan tahun lalu saya buang, andai kata tahun lalu saya ikut, setidaknya sekarang saya sudah memiliki pengalaman. Tapi, janganlah terlalu banyak berandai-andai memikirkan bagaimana sesuatu akan terjadi ketika masa lalu dapat kita ubah. Karena tak ada masa lalu yang bisa di ubah.
Berandai-andailah terhadap masa depan, karena itu bukan dirubah, namun diupayakan.

Berbulan-bulan belajar dan cuma ditentukan pada satu hari tes, membuat banyak sekali para peserta menjadi benar-benar gugup, termasuk saya pribadi. 
Pada malam sebelum hari tes tiba, secara mengejutkan muncul sebuah suntikan semangat, yaitu video-video di instagram Zenius yang berisi motivasi (meskipun itu sebuah saran untuk bermain video games :P) dari para tutor. Sayangnya, Si Founder tidak muncul walau saya tunggu-tunggu, tak apalah... Karena foto penyemangat oleh Mbak Wilo pun sudah cukup. Ha!

Saya putuskan untuk tidak lagi memikirkan bagaimana jadinya hari esok , dan langsung bergegas tidur dengan senyaman mungkin. Terlebih, 3 hari sebelum hari tes tiba, saya stop kegiatan belajar.

Sesuai komando zenius.net, seminggu sebelum hari tes, sudah tak saya gubris lagi materi-materi baru yang sebenarnya meminta untuk dipelajari, dan hanya mengerjakan latihan soal.
Bagaimana dengan Try Out? Baru total enam kali TO pribadi yang  telah saya lakukan di rumah, dan semua tak ada yang mampu menyentuh passing grade 40 % secara real. Jujur saja, passing grade tertinggi saya 42 % dan itu pun karena sebagian soal sudah pernah saya kerjakan sebelumnya.

Pada hari yang  dinanti (yang sejujurnya tidak ), entah kenapa dosis saya gugup tidak begitu berlebih, semua pada takaran yang pas, mungkin ini semua efek samping terhadap tindakan saya yang dahulu pernah meremehkan UN, sehingga otak saya benar-benar terprogram untuk tidak begitu “taking things seriously” pada “things” yang seharusnya saya “think” seriously. Membingungkan? Memang.

Apa yang terjadi ketika saya membuka soal pertama (tkpa)? Bingung melanda seluruh jaringan otak karena tipe soal-soal tpa benar-benar berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Literally, benar-benar berbeda.

Tipe soal barisan? Tak jelas bagaimana selisih setiap angka dapat tercipta.
Tipe soal gambar? Begitu mendominasi dengan lebih dari sepuluh soal keluar, tapi tak lebih dari setengah yang saya mampu.
Apakah semua peserta merasakan hal yang sama? Atau memang saya yang kurang latihan?

Total, dari 45 soal TPA, sepertinya hanya 23 yang saya kerjakan.
Bagaimana dengan matematika dasar, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris? Tidaklah saya ingat karena sudah terlalu pusing.
Hanya satu hal yang benar-benar saya ingat… Matematika dasar, tidak saya kerjakan… Sama sekali. Dengan desas desus adanya nilai mati, bukan hanya nilai sepertinya yang akan "mati".

Secara akumulasi, nilai Tkpa… Sangat kurang.

Mengetahui hal ini, saya langsung tancap gas pada soal-soal Soshum, semua pelajaran saya kerjakan masing-masing lebih dari sepuluh soal. Tak mungkin lagi jika harus realistis seperti sebelumnya.

What about the result?


Saya gagal pada pilihan kedua dan ketiga...

...namun berhasil pada pilihan pertama. Alhamdulillah, maha kuasa Allah. 

Pada hari itu, sang kurama telah terbebas dari dalam diri saya, dengan banyak potensi yang selama ini ia sembunyikan.
Pada hari itu, sebuah rantai nasib telah mengikuti skenario saya, atas izin Allah.
Pada hari itu, kesungguhan hati telah terbayar.

"Saya ingin bermimpi lebih banyak!"
"Saya ingin menembus batas idealisme!"
"Tak kan lagi ada keraguan! Tak akan!"

***
Dan pertanyaannya sekarang, sudahkah kalian menemukan benang merahnya?
Satu hal lagi, bolehkah saya hak atas "A Little History of the World", zen? ;)
Saya mohon undur diri. Bermimpi adalah salah satu hal terindah, sama hal nya dengan keindahan seekor kupu-kupu. Namun, mereka terlahir menjijikkan.

-Fin-

Minggu, 17 April 2016

See You On Top

Hari ini saya iseng membuka kotak pesan di facebook. Walaupun banyak yang bilang bahwa pengguna facebook nowadays hanyalah orang-orang alay, tapi tidak bisa disangkal bahwa facebook adalah salah satu cikal bakal dari awal masuknya trend sosial media. Tentu saya tidak mengabaikan keberadaan friendster, tapi berhubung doi sudah tidak ada lagi, jadi... Ya begitulah.

Baiklah kembali ke kotak pesan tadi, dimana saya menemukan banyak sekali percakapan dimasa lalu. Dari sini saya mendapat informasi bahwa setidaknya pada akhir tahun 2009 saya sudah mempunyai sebuah akun facebook, info ini saya dapat dari sebuah tanggal yang tertera di percakapan pertama saya di facebook.

Pesan pertama saya itu tidaklah begitu membanggakan, hanyalah sebuah kata "hi" yang tidak direspon oleh orang itu.
Tapi yang menarik hati saya, adalah banyaknya percakapan dimasa lalu dengan kawan-kawan lama saya yang entah kemana rimbanya sekarang, dari isi obrolan kami, terlihat bahwa kami dahulu kala sangat akrab, mungkin kami dulu sahabat, mungkin dahulu dia pernah memukul keras kepala saya, yang saya respon dengan senyuman, bukan amarah, karena sahabat yang sebenarnya akan sampai pada level tersebut, tapi tetap saya pukul balik kepalanya.

Kalau kalian ingin merasakan sensasi nostalgia, silahkan cek inbox facebook kalian masing-masing, karena tulisan dimasa lampau adalah sebenar-benarnya mesin waktu.
Itu adalah bukti apa yang telah kalian lalui pada tempo dulu, saya sendiri pernah suatu waktu membaca tulisan saya di tahun 2012, dan bahkan saya tidak tahu bahwa tulisan itu saya sendiri yang mengetiknya, terasa seperti orang lain.

Dari hal ini, saya bisa belajar, bahwa ingatan bisa memudar. 
Namun tulisan takkan pernah kehilangan jejaknya.

Damn that's deep. Hehe walau apasih banget.

Hal lain yang menarik adalah, bahwa banyak sekali silent reader di blog ini. Dan saya yakin, bahwa itu kau... kawan, saya yakin bahwa kau selalu memperhatikan sahabatmu ini, bahwa pertemanan kita akan selalu menjadi mozaik-mozaik kecil kebahagiaan masa lalu.

Namun, jika tidak begitu adanya.
Well... See You On Top. 

Minggu, 20 Maret 2016

Penggambaran Masa SMA Oleh Media Massa Yang Kadang Tidak Realistis

Kawan, kalian tahu tidak sebuah film, tentang anak SMA yang suka sekali terhadap puisi? Dia ini sebenarnya secara visual, hanyalah bocah SMA (tampan) yang punya rambut gondrong, satu hal yang sangat saya kagumi dari dia, yaitu kemampuannya untuk lolos dari razia rambut. Dia juga suka sekali puisi-puisi karya Khairil Anwar, yang ketika saya bertanya kepada teman sekelas saya tentang Khairil Anwar, respon mereka :
"Siapa tuh?"
"Satpam kita yang baru ya?"
Atau respon yang (agak) membanggakan : "Kayaknya pernah denger, yang di buku Bahasa Indonesia itu kan?"

Dengan kondisi begini, saya berencana membuat film remake versi saya sendiri, berhubung tidak ada teman sekelas saya bernama "Cinta" (kalian bayangkan sendiri jika punya teman bernama cinta, niscaya dia bakal di "jugde" playgirl karena setiap laki-laki memanggilnya "cinta"), maka filmnya akan saya beri judul : "Ada Apa Dengan Sumarni?" dan pemeran utama laki-lakinya "Joko".

Jika di dalam film, Cinta beserta kawan-kawannya mengendarai mobil ke sekolah (which is tidak realistis), maka Sumarni akan bolak-balik sekolah dengan angkot berwarna merah bertuliskan "Janda kembang".

Joko juga tidak akan kalah kharisma nya dengan Rangga, dia juga akan membuat sebuah puisi, yang sebenarnya karya Rangga sendiri yang sudah revisi :

Ku lari ke hutan, mencari kayu bakar
Ku lari ke pantai, cari umang-umang
Sepi-sepi dan sendiri

Aku benci                                                                         

Aku ingin bingar,
Aku mau di pasar, pasar malam
Bosan Aku dengan penat,
Dan enyah saja kau pekat, pekat harimau, oh itu pukat
Seperti berjelaga jika Ku sendiri

Pecahkan saja gelasnya, itu hadiah detergen kok 

biar mengaduh sampai gaduh,
Ada malaikat menyulam jaring laba-laba belang di tembok raksasa cina
Kenapa tak goyangkan saja biduan itu

Atau aku harus cari kayu bakar dan juga umang-umang?

Ok, sebenarnya secara keseluruhan, tujuan dari posting saya ini adalah sebuah curahan hati seorang laki-laki yang tidak pernah mengalami hal keren di masa SMA nya, tidak seperti apa yang ditampilkan oleh dunia entertainment itu.

Dimanapun seni perannya, tidak ada adegan anak SMA yang seragam sekolahnya di masukkan dan rapi, kalaupun ada, maka ia akan sepaket dengan kaca mata dan berakhir jadi bahan bully-an.

Atau adegan ketika mereka di kantin dengan berbagai macam makanan ; Bakso, mie ayam, burger, nasi goreng, soto, etc. Terakhir kali saya ke kantin, yang saya beli adalah kuaci seharga 500 rupiah (maklum saat itu uang menipis, maklum anak kos).

Dan mungkin, adegan konspirasi cinta segitiga, perseturuan antar geng, atau konflik si kaya dan si miskin. Tapi yang sebenarnya terjadi di lapangan, adalah kisah masa SMA kami yang memilukan yaitu ditarik ke ruangan BK akibat ngobrol tentang Naruto saat pelajaran Bahasa Indonesia.
Jika ada kawanku yang masih ingat kejadian ini, maafkan saya karena itu ulah saya.

Senin, 07 Maret 2016

Aliran Way Tuok

Dahulu saya berpikir bahwa danau dan sungai adalah hal yang sama. Ternyata sungai mengalir, sedangkan danau tidak ubahnya sebuah genangan air raksasa. Kembali, pikiran masa kecil saya mengarah ke danau, yang betapa ajaibnya ia sehingga tanah tak mampu menyerap air yang ia miliki, sebuah pertanyaan dari masa lalu : Apakah danau memiliki kemampuan menyumbat aliran air? Begitulah seorang anak kecil berpola pikir, mereka mudah sekali kagum dengan hal-hal remeh. (Sebenarnya tidaklah begitu remeh, mengingat otak saya yang sekarang juga takkan mampu menjawabnya tanpa bantuan om google.)

Perihal sungai-danau, sekolah masa kecil saya itu -yang berseragam merah putih- bersebelahan dengan anak sungai yang bermuara sampai ke lautan. Kadang riak air terdengar jelas ketika pelajaran dimulai.

Namun, anak sungai itu bukanlah satu-satunya sahabat bagi ruang kelasku, mari saya perkenalkan dengan satu lagi objek geografis yang menemani anak sungai berair keruh itu, yaitu adalah sebuah dataran tinggi yang bersekongkol dengan ruang kelas dan kantor guru untuk mengapit aliran anak sungai berbau kotoran manusia itu.

Kawan, tolong maafkanlah kami bocah-bocah SD karena terkadang kami lebih suka untuk membuang hajat di atas aliran sungai itu ketimbang harus menahan bau pesing wc sekolah. Toh ini juga berkat bantuan penduduk sekitar yang memang pola pikirnya sama dengan kami, bedanya, mereka mungkin tidak punya jamban di rumah masing-masing. Atau mungkin sebenarnya mereka punya? Karena menurut satu dari satu orang yang saya wawancara, alasannya prefer untuk "melakukannya" di sungai adalah karena sensasi segar hembusan angin yang melewati pohon dan tak jarang, ia membuat sensasi kesegaran itu sebagai kebutuhan primer, dan aksi membuang hajat di sungai sebagai kebutuhan sekunder.

***

It's gonna be another day for another story. Even though I have no idea why people read this, and how desperate you are if you're reading this right now. No, it's a joke. :P